Minggu, 20 April 2014

[Sinopsis J-Drama] Border Episode 1 Part 2


"kelanjutan penyelidikan kematian keluarga Sawada"


Tim detective mendatangi perkumpulan sekte “God’s Light”. Pendeta memperkenalkan anggotanya, yang tinggi pakai baju biru, Nishiyama, sedangkan yang pendek berbaju ungu, Hayakawa. Mereka menginterogasi Nishiyama dan Hayakawa secara terpisah. Tachibana meminta ia yang akan menginterogasi Hayakawa.


Ketua Ichikura dan Ishikawa menginterogasi Nishikawa.

“hari sebelum keluarga Sawada terbunuh sore hari, sekitar pkl 1, kau dan Hayakawa-san mengunjungi rumah mereka.”ujar ketua Ichikura memulai interogasinya. Nishikawa membenarkan. “ada tetangga yang melihatmu dan nyonya Sawada berdebat di depan pintu, apakah itu mengenai urusan agama?”. Nishikawa kembali membenarkan.”para tetangga juga mengatakan bahwa mereka mendengar nyonya Sawada berteriak meminta uangnya kembali. Apakah itu juga benar?”

“itu bukan ingatanku. Mungkin mereka salah dengar?”

“benarkah?”Tanya ketua Ichikura menekankan.”ngomong2 bisakah kau mengatakan pada kami apa yang kau lakukan? Di hari kejadian sampai keesokan harinya?”

“tentu saja.” Jawab Nishikawa yang kemudian melihat catatan di Hp-nya. Terlihat tangan kanannya diperban.


Tiba2 Ishikawa merasakan sakit kepala lagi. Kemudian mncullah Ruo, anak laki2 keluarga Sawada. Ia berjalan berdiri di dekat tempat duduk Nishiyama, lalu berkata tanpa suara yang tak dimengerti Ishikawa.

“itu terjadi ketika masih di Teito Hotl di Akasaka,”jawab Nishiyama setelah melihat catatannya.

“kapan itu dimulai?” Tanya ketua Ichikawa.

“itu dimulai pada jam 3 dan pulang jam 7 malam.”

“dari jam berapa kau di sana?”

orang ini bukan yang membunuh kita.” Ishikawa dikejutkan oleh suara arwah nyonya Sawada yang berdiri di belakangnya. Ia reflek menoleh ke belakang. Ia melihay tuan dan nyonya Sawada yang kemudian berjalan ke belakang kursi di depannya.

“kita tahu siapa pembunuhnya.”kata tuan Sawada.

“siapa pembunuhnya?”Tanya Ishikawa pada tuan Sawada. Ketua Ichikura dan Nishiyama heran menoleh ke arahnya. Suasana jadi hening.

“anak nyonya Kurahashi, yang tinggal di tempat asal kami,”jawab tuan Sawada. [kenapa tidak dari awal  sih memberitahukan pelakunya, biar cepet selesai kasusnya]

Ishikawa meminta maaf pada ketua Ichikura dan Nishiyaama, menyuruh mengabaikan perkataannya barusan.


Ishikawa mendatangi kantor polisi untuk mengecek sesuatu.


Saat ishikawa berjalan sendiarian, ia merasakan sakit kepala lagi. Kemudian terdengar suara tuan Sawada,”pada malam itu,”arawah tuan dan nyonya sawada muncul, “aku mendengar jendela terbuka di lantai dua dan terbangun.”jelas tuan Sawada.”ketika aku ke jalan ruang masuk dia[pelaku] sudah berdiri di sana dengan sebuah pisau. Itu adalah kesalahanku, tidak menguncinya dengan benar. Aku mencoba menolong istri dan anakku, tapi … aku tidak bisa.”

“apakah kau pernah bertemu si pembunuh sebelumnya?”Tanya Ishikawa.

“kami menyapanya jika kita melihatnya di kota. Tapi kadang2 ketika kita melakukannya dia terlihat benar2 aneh di matanya. Kita tahu ibunya sebelumnya, dia[nyonya Kurahashi] seorang sales asuransi jadi dia sering datang ke rumah kami. Kurahashi-san membesarkan anak laki2nya sendiri.” Terang nynya Sawada.

“apakah kau memiliki bukti bahwa dia pembunuhnya?”

“aku sengaja mencakar wajahnya, luka itu pasti masih di sana.”

“apakah hanya dia?”

“ya. Hanya dia satu2nya yang kami lihat.”ganti tuan Sawada yang menjawab.

“apakah kau memiliki suatu ingatan setelah terbunuh?”

“tidak. Sampai kau datang.”jawab nyonya Sawada.”kita benar2 blacked-uot, hanya mati. Kau sebenarnya yang membangunkan kita.” Ishikawa yang terkejut mendengarnya langsung menoleh pada nyonya Sawada.

“kita hanya bisa ‘terbangun’ ketika bericara padamu.”lanjut tuan Sawada.”dan ketika kita terbangun, kita bisa mengingat sakit dan trauma dari kejadian itu.”

“tolong tangkap pembunuh itu untuk kita,”pinta nyonya Sawada. Ishikawa tampak berfikir. Kemudian ada anak laki2 yang melewatinya, arwah nyonya dan tuan Sawada tiba2 sudah menghilang.


Ishikawa mendatangi apartement nyonya Kurahashi. Hanya anaknya yang ada di rumah (ia memiliki luka yang dipester di pipi kirinya), ia berkata bahwa ia sudah diinterogasi oleh seseorang kemarin. Tapi Ishikawa bahwa ia masih ingin mengonfirmasinya lagi.

“apakah kau mengenal keluarga Sawada dengan baik?”

“tidak juga. Ibuku yang kenal mereka dengan sangat baik.”

“malam saat kejadian terjadi dimana kau?”

“aku telah menjawabnya kemarin.”

“bisakah kau tolong menjawabnya sekali lagi?”

“aku sedang di karaoke dekat stasiun KA sampai pagi dengan seorang teman. Kau bisa pergi mengeceknya pada penjaga di sana jika kau ingin, aku seharusnya ada di sana.”

“dari jam berapa kau di sana?”

“dari jam 12 sampai jam 5 pagi.”

“dan pada jam 11 di mana kau?”

“aku ada di sini[rumah]!! ibuku bisa membuktikan itu.”


“apa yang terjadi?” Tanya nyonya Kurahashi yang baru pulang sambil membawa belanjaan. Anaknya bahwa Ishikawa adalah seorang polisi.

“bu, pada jam 11 malam saat peristiwa it terjadi aku di rumah, kan?”

“aku akan berbicara dengannya[Ishikawa], kau kembali masuklah ke dalam.” Pinta nyonya Kurahashi pada anaknya.

Nyonya Kurahashi berpaling kea rah Ishikawa,”anakku di sini pada saat waktu yang kau tanyakan. Aku membuatkan makan malam untuknya, aku bisa mengingatnya dengaan jelas.”

“oh, baiklah. Ngomong2, apa pekerjaan anak anda?”

“beberapa waktu lalu, dia melukai dirinya jadi dia tidak bekerja beberapa waktu. Dia memiliki tubuuh yang lemah sejak kecil. Apakah kau sudah selesai? Aku harus pergi membuatkan malam malam untuknya.”

Akhirnya Ishikawa pamit pergi.


Ishikawa tampak duduk sendirian di ruang pertemuan polisi[sepertinya]. “apakah kau ingat pakaian si pembunuh?”

Ternyata di depannya berdiri arwah nyonya Sawada,”dia memakai kaos hitam dan jeans. Dan dia memiliki cap dengan logo S padanya.”

“bisakah kau lihat semua itu di dalam kegelapan?”

“ketika aku terbangun, lampu sudah menyalah di dalam ruangan.”

“kenpa si pembunuh menyalakan lampu?”. Nyonya Sawada ragu2 menjawabnya.”apakah itu sulit bagimu untuk menjawabnya?”

“tidak … setelah dia menyalakan lampu, dia melihatku lekat2 dan berkata ‘itu akan percuma jika kau tidak bisa melihat apapun’, setelah itu dia mendekat dan menusukku.”

“apa yang kau selidiki?”Ishikawa dikagetkan oleh suara ketua Ichikura yang membuatnya langsung menoleh ke belakang.

“ahhh…. Aku mendapat informasi bahwa pria ini sering di taman dekat rumah korban.”

“dia memiliki alibi yang kuat. Dia tidak terlihat seperti type berkelompok juga. Ketua berkata bahwa jika ada kecurigaan, kesaksian tentang Nishiyama dan Hayakawa harus kita ambil. Media mulai sepakat jadi ketua menjadi tegang. Itu akan berat untuk menyelidiki ini beberapa saat.”jelas ketua Ichikura. Ishikawa tak perduli, ia ingin tetap mencobanya.

“kau akan membutuhkan sesuatu lebih daripada rumor, untuk mengubah ketua polisi lebih dahulu.”

“aku tahu itu.”


Ishikawa pergi ke sebuah club malam. Ia langsung menjadi perhatian semua orang saat masuk ke dalam. Ia langsung menyelonong masuk menghampiri orang yang sedang duduk memakai topi lalu memperlihatkan lencananya. Semuaa orang kemuar saat orang itu dengan tangannya mengisyaratkan untuk pergi. orang itu adalah Akai [Arata Furata], seorang informan. si penjaga bar tidak keluar, ia berjalan menghampiri mereka.

“apakah kau ingin sesuatu untuk diminum.” Tanya tuan Akai.

“tidak.”

“jadi apa yang kau butuhkan?”

“aku ingin membuat rencana untuk ini …” Ishikawa meletakkan secarik kertas di meja.

Tuan Akai melihatnya,”terlihat sangat sulit … itu akan jadi sangat sulit untuk pria sepertiku. “

“Apakah kau merendah atau mencoba bernegosiasi denganku?”

“kau tahu bahwa aku exclusive dengan boss-mu, kan?”

“itu tidak ada hubungannya. Aku dengar bahwa kau adalah ahlinya. Aku akan memutuhkan sesuatu yang bagus.”

“okay, baiklah. Aku memiliki seseorang yang sempurna untuk itu. Dia keras kepala. Jadi dia tidak akan mudah.” Tuan akai menaruh kertas dari Ishikawa di dalam bukunya, kemudian meletakkannya di meja. Mungkin artinya ia menolak. Tapi, karena Ishikawa diam saja tak bergeming, ia akhirnya setuju.”kerja bagus menggunakan memo untuk menghindari rekaman, kau mendapat extra point untuk itu. Bagi kepentingan kita berdua. Ayo kita coba untuk berhati-hati tentang bagaimana kita mengatasiinformasi kita.” Tuan Akai memberikan kertas itu kembali pada Ishikawa.

“berapa banyak yang kau inginkan?”

“sejak ini pertama kalinya buatmu, aku akan melakukannya gratis. Tapi ingat bahwa kau berhutang padaku.”

“… tentang boss-ku …”

“wow, kau langsung ke pokoknya. Tentu saja aku tidak akan mengatakan padanya.”

“aku mengandalkanmu.”Ishikawa kemudian berjalan pergi, tapi langkahnya terhenti saat tuan Akai berkata …

“boss-mu mengatakan padaku bahwa, dia memiliki pria muda yang tidak akan pergi ke jalan kotor. Dia berkata namanya adalah Ishikawa atau sesuatu … mungkin aku salah.”

Ishikawa berjalan begitu saja tanpa menoleh.


“yepp, dia lulus. Selamat bekerja.”kata tuan Akai, lalu meminum wine-nya.


Esok harinya, datang seseorang laki2 tua berpakaian layaknya pengemis masuk ke kantor polisi. Ia mengatakan bahwa ia telah melihat orang yang telah membunuh keluarga Sawada di taman.

Ketua Ichikura menginterogasinya bersama Ishikawa yang duduk di belakangnya.

“apa yang dia kenakan?”Tanya ktua Ichikura.

“kaos hitam dan jeans. Dan dia mengenakan topi dengan logo S.”

“bagaimana bentuk tubuhnya?”

Tiba2 Ishikawa menghampiri mereka dengan menunjukkan laptopnya,”apakah ini orangnya?”

Si saksi memperhatikannya, lalu membenarkan dengan sangat yakin. Ketua Ichikawa penasaran, kemudian melihatnya, terpampang foto facebook anak nyonya Kurahashi.”

Ishikawa keluar dari ruang interogasi dengan cepat, ketua Ichikura yang berada di belakangnya memanggilnya. Ishikawa hanya menoleh dengan wajah serius. Tapi ketua Ichikura tak jadi mengatakan apapun.

[mungkin yang diminta Ishikawa pada tuan Akai adalah saksi palsu itu, karena langsung datang saksi yang mengaku melihat pelaku setelah Ishikawa meminta bantuan tuan Akai]


Ishikawa dan Tachibana berada di tempat penyeberangan jalan.

“kenapa kau memintanya datang ke sini? Itu akan lebih baik untuk melakukannya di stasiun.”Tanya Tachibana.

“percayalah padaku saja.”

Lampu penyeberangan berwarna hijau, dari seberang nyonya Kurahashi berjalan kearah mereka.


Mereka bertiga duduk di sebuah café.

“aku hanya butuh keterangan sekali lagi. Pada malam pembunuhan, di mana anda berada?”Tanya Ishikawa.

“aku ada di rumah.”

“apakah kau yakin tentang itu?”

“ya, aku yakin.”

Ishikawa mengeluarkan sesuatu dari dokumennya, itu adalah foto nyonya Kurahashi yang berada di supermarket,”tolong ceck waktunya?” dalam foto menunjukkan pukul 23:46:35.

“apa ini? Jelaskanlah.” Pinta Tachibana.

“aku baru ingat. Aku sedikit haus, jadi aku pergi untuk mendaptkan teh.”

“di toko 2 km dari rumah anda?” Tanya Ishikawa.

“aku pikir aku pergi terlalu jauh saat berjalan-jalan juga.”

“jalan2? Kau pergi untuk berjalan-jalan dengan tas sebesar ini? Jangan membuat kami tertawa.” Tachibana mulai kesal.

”menurut daftar pembelian, kau tidak membeli tea. Kau membeli sarung tangan dan pemotong kuku.”jelas Ishikawa,”setelah jam 11 kau mendapatkan telephone dari seseorang meminta sesuatu. Kau tidak bisa mengatakan tidak jadi kau bergegas dan meninggalkan rumahmu. Dan kau mengambil tas ini untuk menghilangkan bukti. Dan mengganti pakaian untuk orang LAIN. Kau tidak memiliki sarung tangan atau pemotong kuku di rumah jadi kau membelinya. Kemudian pergi ke kediaman keluarga Sawada.”


Ishikawa memperlihatkan foto kedua, foto mayat tuan Sawada ketika terbunuh. Nyonya Kurahashi mengalihkan pandangannya.”setelah si pelaku menerima pakaian dari anda dan mengantinya, dia meninggalkan rumah untuk membuat sebuah alibi. Dan kemudian kau mulai mulai menghilangkan buktinya sendiri.”

Ishikawa memperlihatkan foto ke-3, mayat nyonya Sawada yang ada di tempat tidur. Nyonya Kurahashi tambah tak nyaman melihatnya.

“bagaimana perasaan saat membersihkan dan dikelilingi tubuh mayat? HUH?”Tanya Tachibana emosi.

“karena kau pergi berkeliling kota karena panggilan asuransi, kau tahu semua mengenai perdebatan nyonya Miyuki-san dengan anggota organisasi agama. Jadi kau tidak menghapus jejak kaki si pelaku. San kau membuat jejak lain yang akan terlihat seperti plaku kejahatan oleh 2 orang [anggota ‘GOD’S LIGHT-Nishiyama dan Hayakawa].” Kemudian Ishikawa memperlihatkan foto jejak sepatu di TKP.



Setelah melihat jam, Ishikawa mengabil foto lain. Ia melihat nyonya Krahashi memandang ke luar café. Ishikawa mengikuti arah pandangan nyonya Kurahashi, di luar terlihat anak2 dan ibu mereka bergandengan tangan pulang sekolah dengan riang gembira. [apa Ishikawa memang sengaja mengambil tempat dan waktu saat anak2 pulaang sekolah yah?? Karena ia melihat jam-nya]

Ishikawa lalu memperlihatkan foto korban terakhir, Ryo anak laki2 keluarga Sawada.”aku telah mati sekali sebelumnya.”nyonya Kurahashi tampak terkejut mendngar perkataan Ishikawa, Ishikawa memperlihatkan bekas luka teah di kepala bagian kirinya.”aku ditembak saat bekerja. Ketika aku dibawa dari tempat kejadian ke RS, aku merasa seperti sesuatu yang menakutkan sedang memandangku sepanjang waktu. Di sana tidak ada kenangan dari memori indahku, yang terpancar di mataku. Dan itu mungkin karena aku mencoba SANGAT KERAS untuk menghilangkan kekuatan yang menakutkan itu dan tetap hidup. Tapi, itu tidak cukup. Tangan kekuatan menakutkan itu menangkapku dan mendorongku ke dalam kegelapan. Ketika aku didorong ke dalam kegelapan itu, aku tidak bisa merasakan ketenangan, kekuatan bebas. Semua yang aku raskan adalah sakit dan penderitaan seperti hidupku telah dicuri. Mengambil kehidupan seseorang sama saja mengambil masa lalunya, sekarang, dan masa depan. SEMUA-nya. Itu adalah mencuri ingatan mereka, dan mencuri teman2 mereka serta kenangan2 para keluarga. Aku telah diselamatkan oleh keajaiban. Aku bisa tertawa dan menangis. Tapi keluarga Sawada, mereka tidak akan sanggup tertawa bersama seperti ini lagi selamanya.”

Ishikawa memperlihatkan foto keluarga Sawada yang sedang tertawa bahagia. Nyonya Kurahashi memejamkan matanya menahan tangis,”mencuri bagian yang paling penting, dari seseorang seharusnya tidak boleh dimaafkan.”kata Ishikawa berkaca-kaca.

“… pembunuh mereka adalah anak anda, kan?”Tanya Ishikawa to the pint.

“dari ketika ia masih kecil, kapanpun dia jatuh atau melakukan sesuatu yang salah, dia selalu datang sambil menangis dan memintaku untuk menlongnya, dia benar2 bergantung padaku. Dan sama pada malam itu. ‘oka-san, tolong selamatkan aku’. Karena itu aku tidak bisa memberikan kehangatan, rumah yang nyaman baginya. Aku pikir aku harus membayarnya kembali dengan melakukan sesuatu padanya.” Tutur nyonya Kurahashi dalam tangisnya.

“aku butuh keterangan satu lagi. Ukuran kaki anda sekitar 23, apa yang kau gunakan untuk membuat jejak sepatu[yang kecil]?”Tanya Ishikawa.

“sepatunya. Dari ketika dia di SMP. Aku tetap menyimpan semua sepatunya ,..”nyonya Kurahashi sudah tidak bisa membendung kesedihannya,”sejak dia lahir …”tangisnya meledak. [jadi anaknya iri pada kehangatan keluarga yang dimiliki keluarha Sawada, karena dirinya hanya tinggal bersama ibunya yang bekerja hingga larut malam yang membuatnya kesepian dan kekurangan kasih sayang]


Anak nyonya Kurahashi sudah berada di ruang interogasi. Di luar, Higa memberikan sebuah dokumen pada Ishikawa yang kemudian di bawa masuk dengan ketua Ichikura. Sedangkan Tachibana akan melihat dari ruangan samping [yang ada kaca untuk melihat ke ruang samping]. Tachibana bertanya mengenai document apa yang tadi di berikan Huga?

“itu adalah hasil test bacteria Ryo-kun.”jawab Higa. Kemudian ia minta izin melihat proses interogasinya juga.

Di ruang interogasi


“ibumu telah mengutarakan semuanya. Semuanya telah berakhir sekarang. Bagaimana kau mengatakan dirimu?” kata ketua Ichikura.”itu akan membuat ini mudah.”

“tidak mungkin bahwa oka-san akan mengkhianatiku.”

“kau telah melakukan ini untuk beberapa waktu, untuk ibu, kan? Memanggilnya dari TKP menangis. Memintanya untuk daatang menolngmu, kemudian membuatnya membersihkan pekerjaan yang telah kau lakukan. Kami menggunakan kesaksiannya untuk penyelidikan, serta kejadian yang tidak terungkap juga. Jadi, apakah kau mengerti? Ibumu sudah memutukan untuk membayar kejahatannya. Bagaimana kau mengambilnya sebagai contoh dan … mengakui kejahatanmu?” anak Nyonya Kurahashi hanya diam seribu bahasa, itu membuat ketua Ichikura kesal, dan meninggikan suaranya,”TIDAK BISAKAH KAU BICARA KETIKA IBUMU TAK BERSAMAMU? APAKAH INGIN KAMI MEMANGGILNYA KE SINI?!!”

“DIAM!!”

“Terlihat bahwa kau telah membuka identitas aslimu. Tetaplah begitu.”

“APAKAH KAU MEMPUNYAI BUKTI YANG KUAT BAHWA AKU YANG MELAKUKANNYA? HUH?”

Sakit kEpala menyerang kembali pada Ishikawa, ia kemudian melihat arwah Ryo di sampingnya memandang kearah anak nyonya Kurahashi. Dari ruangan samping Higa memperhatikan arah pandangan Ishikawa. Higa penasaran apa yang dilihat Ishikawa??

Ryo menoleh pada Ishikawa, kemudian menunjuk pada anak nyonya Kurahashi. Ishikawa melihat arah yang ditunjukkan Ryo dengan tatapan tajam seakan tahu maksudnya.

“APA YANG KAU LIHAT!?” Teriak anak nyonya Kurahashi pada Ishikawa yang menatapnya.

Ishikawa bangkit berdiri dari kursinya, kemudian menghampirinya. Ia lalu membisikkan sesuatu. Terlihat keterkejutan diwajahnya setelah mendengarnya. Ketua Ichikura dan lainnya jadi heran melihatnya.

Ishikawa memegang luka di pipi kanan tersangka, yang kemudian ditepis,”apa yang kau lakukan …”suaranya terdengar ketakutan.

“terlihat sepertinya kau bengkak.”

“kenapa jika aku bengkak?”

Ishikawa mengambil document yang tadi diberikan Huga.”anak yang bunuh, Ryo telah terinfeksi virus OTAFUKU. Virus Otafuku juga disebut penyakit ‘gindok’ dan transmittable. Apakah kau tahu, virus itu ada di DNAs isik jari meerka? Itu semacam sidik jari. Bayangkan oleh dirimu sendiri. Seluruh tubuhmu sekarang, dipenuhi sidik jari Ryo-kun.”

Perkataan Ishikawa membuatnya ketakutan, dan mencoba mengusap-usap kulitnya untuk menghilangkan sidik jadi Ryo-kun.

“hasil forensic seharusnya cepat keluar, tapi sebelum itu kita harus brbicara sedikit lagi dan kau harus mendapatkan perawatan dan tidur.” Kata ketua Ichikura.

Ia hanya bisa menatap Ishikawa dengan ketakutan. Ishikawa hanya memandang dengan tatapan dingin padanya. Ia berteriak kesal.


Ishikawa menoleh pada Ryo lalu mereka tersenyum.


Keluar dari ruang interogasi. Ishikawa memberikan dokumennya kembali pada Higa.

“di sana tidak ada apapun mengenai Ry-kun memiliki gondok di tubuhnya.”kata Huga.

“Ah, aku pikir itu kesalahanku. Itu tidak seperti kita memaksa mengaku juga.”

Ketua Ichikura tersenyum,”aku pikir kita selamat kali ini. Tapi apa yang akan kau lakukan jika di mengingat mempunyai gondok sebelumnya?”

“ketika kau memiliki gondok atau kau sakit, siapa yang biasanya mengatakan bahwa kau tidak sehat?”

“ibumu.”jawab Tachibana.

“aku tahu tidak mungkin bahwa dia akan berbicara tentang itu dengan ibunya jadi aku mencobanya.”

“jadi kali ini adalah sebuah HOME-RUN. Tapi lebih hati2lah lain kali.”ketua Ichikura mnasehatinya.

“baiklah.”jawab Hyuga sambil membungkukkan badannya.

“agaimana petugas polisi menakutkan dengan penutup.”kata Huga. Ishikawa berterima kasih padanya.”aku sudak mengatakan padamu untuk kelonggaran.” Huga berjalan pergi.

Tachibana penasaran apa yang Ishikawa bisikkan tadi pada si pelaku? ”dia benar2 kehilangan ketenangannya setelah itu.”

“itu tidak penting.”

“katakana saja padaku.”

Akhirnya Ishikawa menjawab,”dia bertanya padaku apa yang aku lihat, jadi aku mengatakan padanya ‘itu akan percuma jika tidak bisa melihat semuanya’,” itu adalah kata2 nya sebelum membunuh keluarga Sawada.

’percuma?’ huh?” tachibana heran, tak percaya.”kau PASTI berbohong.”

Ishikawa berjalan kembali masuk ke ruang interogai untuk menyelesaikan laporannya. Tachibana masih tak percaya dan menyuruhnya mengatakan yang sebenarnya.

“apakah dia selalu seperti itu?”Tanya Tachibana pada ketua Ichikura.

“aku kira dia telah terlahir kembali.”jawab ketua Ichikura sambil berjalan pergi dari sana.


Di dalam ruang interogasi. Ishikawa melihat keluarga Sawada berdiri di depannya.

“terima kasih.”kata Ryo. Ishikawa hanya mengangguk.

Itu adalah terakhir kalinya keluarga Sawada muncul. Merka pasti akhirnya tenang dan pergi atau mungkin, itu karena tubuhnya telah dikremasi. Atau mungkin aku baru saja kehilangan kekuatan untuk berkomunikasi dengan orang mati. Satu hal yang aku yakini bahwa aku pernah mati sekali  dan telah terlahir kembali. Dan, bahwa aku telah bekerja di pekerjaan dimana aku bisa menolong orang mati. Mulai sekarang aku puas hanya mengetahui itu.



Ishikawa datang ke lokasi kejadian pembunuhan, dan ia sedang melihat-lihat skitar TKP. Sakit kepala kembali melanda … setelah sakit kepalanya hilang, ia melihat kesekelilingnya. Ia melihat seorang wanita yang erdiri di atas balkon. Kemudian ia menghampirinya, saat akan memperlihatkan lencananya, ia mengurungkannya karena ia tahu hantu tak mungkin membutuhkannya. Wanita itu tampak sedih. Ishikawa langsung bertanya,”siapa yang telah membunuhnya?”

Jumat, 18 April 2014

[Sinopsis J-Drama] Border Episode 1 Part 1



Biodata pemain klik di sini

Narasi Ishikawa: Orang tidak bisa menghindari kematian, itu akan selalu mengintai di dalam bayang2.


Terdengar suara tembakan, di bawah lampu penerangan di sebuah gang terlihat sesosok tubuh terlentang,  matanya terbuka dengan pandangan kosong, darah segar mengalir dari kepalanya mengenai tanda pengenal polisinya yang tergeletak tidak jauh dari tubuhnya. Orang itu adalah Ishikawa Ango [Shun Oguri], seorang detektif yang tergabung di Divisi Investigasi Pertama bagian Investigasi Pembunuhan dari Tokyo Metropolitan  Police  Departemen  (MPD).

Karena pekerjaanku, aku telah menyaksikan banyak kematian. Tapi, aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan mati juga suatu hari. Sampai pada 2 jam yang lalu …

Ishikawa keluar dari kereta, kemudian pergi ke supermarket dengan mengantuk.

itu adalah waktuku pulang dalam 3 minggu. Dimana sebenarnya sangat sebentar bagi seseorang yang masuk dalam kasus pembunuhan. Semua yang aku pikirkan adalah bekerja, setiap hari. Karena aku mendedikasikan hidupku di dalamnya. Sebelum ak mengetahunya, aku sudah tidak mempunyai teman dan paacar lagi. Aku pulang ke rumah ke apartementku yang sunyi. Menonton TV walaupun aku tidak ingin menonton, makan, kemudian jatuh tertidur. Sebenarnya aku lebih suka bekerja, dengan waktu tersebut. aku selalu berharap dan memohon bahwa seseorang akan terbunuh, jadi aka akan dipanggil ke tempat kejadian.


saat Ishikawa baru keluar dari supermarket sambil membawa plastic belanjaan, ia tersenyum cerah setelah menerima telephone. Belanjaannya dibuang begitu saja di tong sampah di depan supermarket.

Aku akhirnya dipanggil ke tempat kejadian (pembunuhan). Itu adalah sebuah pembunuhan. Korban adalah bekas anggota polisi.


Ishikawa berlari menuju TKP, ia menghampiri pimpinannya, Takuji Ichikura [Kenichi Endo] yang tampak sedang menunggunya di depan TKP. Kemudian partnernya Yuma Tachibana [Munetaka Aoki] menghampiri mereka dari dalam TKP. Ishikawa tampak mengabaikan Tachibana dan bertanya pada ketua Ichikura mengenai kejadian pembunuhan kali ini. Korban di tembak tepat lurus di kepalanya, Tachibana yang terlihat kesal pada Ishikawa mengacungkan jarinya seperti pistol di depan dahi Ishikawa seperti memperagakan pembunuhan tersebut. ishikawa menyingkirkan tangan Tachibana dengan acuh.

Bukannya masuk ke TKP, Ishikawa memilih mengecek di luar TKP.

Kembali ketika aku sedang patroli (di dekat TKP), aku menangkap pelaku yang bodoh itu kembali ke TKP. Karena penangkapan itu , aku dipromosikan ke Divisi Detective. Sejak itu, aku selalu memastikan untuk mengecek sekitar TKP sebelum masuk ke tempat kejadian.


Di sebuah jalan dekat TKP, Ishikawa melihat orang berjalan masuk ke sebuah gang.

Aku selalu berharap bahwa si pelaku bodoh (karena kembali ke TKP).


Ishikawa mengikuti orang tersebut, saat mengeluarkan tanda pengenalnya tiba2 ada orang yang berjalan di depan orang yang diikuti Ishikawa yang langsung menodongkan pistolnya pada Ishikawa. Wajah orang yang mengacungkan pistol tak terlihat karena terhalang kepala orang yang diikuti Ishikawa. Ishikawa hanya bisa diam mematung.

Tapi kali ini aku adalah orang bodoh itu. Aku benar2 lupa apa senjata si pembunuh. Ini mungkin karma karena berharap seseorang akan mati.


Tanpa berkata-kata orang itu menembak Ishikawa dan mengenai pelipis kirinya. Ishikawa langsung ambruk, dalam kesadarannya ia meminta tolong dengan suara lirih. Si penembak mengambil selongsong peluru dengan sapu tangan (karena masih panas :) yang terjatuh di dekat tanda pengenal Ishikawa agar menghilangkan bukti. Ishikawa masih sempat melihat kedua orang itu berjalan pergi walau samar2.


Ishikawa dimasukkan ke dalam ambulan, ketua Ichikura dan Tachibana hanya bisa melihatnya dengan khawatir. Tangan Ishikawa masih bergerak seperti meminta tolong.


Aku masih hidup … aku belum harus mati … kemana orang pergi ketika mereka mati? Jika aku mati akankah sakit dan trauma ini akan menghilang? Apa yang terjadi dengan semua ingatan yang telah aku miliki? Kemana mereka (ingatan) akan pergi? aku tidak ingin mati. Aku tidak ingin mati. Aku tidak ingin mati … tapi aku telah mati. Dan … aku kembali hidup.



Ketika orang mati kemana mereka akan pergi? selama kecelakaan aku tertembak di kepala. Dan peluru tersebut bersarang di tengkorakku. Serta berdiam ke dalam otakku. Karena inilah aku selamat scara ajaib. Tapi mengeluarkan peluru memerlukan operasi yang berbahaya, jadi aku memutuskan untuk hidp dengannya (peluru) mulai sekarang. Dan sebagai akibatnya …


Ishikawa tersadar dari komanya.

Aku tidak sadarkan diri selama 5 hari setelah tertembak.

Dokter: “Untuk mengeluarkan perlu dibutuhkan operasi. Selama operasi, kami butuh menghentikan jantungmu sementara.”

“apakah itu berarti … aku akan mati sementara?”Tanya Ishikawa lemah.”walaupun jika it sebentar, aku akan mati, kan?”

“sekarang kau masih hidup, tapi kami belum tahu apa efek peluru dalam waktu lama. Sebagai seorang dokter, aku hanya menganjurkan untuk melakukan operasi.”

Kenapa aku kembali hidup? Kenapa keajaiban ini datang? Apa maksud aku MASIH hidup?


Ishikawa duduk di taman rumah sakit di bawah terik matahari. Ada orang yang memberikan minuman padanya, dia adalah ketua Ichikura yang kemudian duduk di sampingnya. Kemudian bertanya apa yang Ishikawa lakkan tentang peluru yang bersarang di kepalanya?

“walaupun jika itu sementara, aku tidak ingin mati lagi. Jadi, sejauh tidak ada efek dalam kehidupanku jadi … bisakah aku kembali bekerja?”

“itu bergantung keputusan atasan. Itu tidak akan mempengaruhi fisikmu, tapi lebih pada mentalmu. Bisakah kau kembali bekerja lagi seperti tidak ada yang terjadi? Hanya gunakan waktum dengan pilihan. Kau bisa kembali bekerja kapanpun”

“apakah kau menemukan apapun tentang pria yang menembakku?”

“hanya satu petunjuk yang kami punya, itu adalah peluru di dalam kepalamu. Atasan berkata untuk mengeluarkannya dengan paksa dan menyelesaikan peristiwa itu.” Kata ketua Ichikawa. Ishikura tersenyum mendengar kata2 ketuanya itu. ketua Ichikura menghabiskan minumannya, lalu ia beranjak pergi. 


Saat Ishikawa akan mengikutinya, tiba2 ia merasakan sakit kepala hebat, ketua Ichikawa yang melihatnya langsung menanyakan keadaannya dengan khawatir.

Saat sakit kepala Ichikawa reda, ia melihat gadis cilik membawa boneka teddy bear sedang menatapnya. Ketua Ichikura melihat arah tatapan Ishikawa, tapi ia tidak melihat apapun. Saat ia mengusulkan memanggil dokter, Ishikawa tersenyum berkata bahwa ia baik2 saja. Ia hanya merasa sedikit mual dari paparan sinar matahari.


Saat Ishikawa masuk ke dalam RS, ia mendengar suara tangisan. Saat menoleh terlihat seorang ibu yang menangis dengan memeluk sebuah boneka teddy bear seperti milik anak kecil yang dilihat Ishikawa di taman.

Sebuah tangan memegang bahi Ishikawa yang membatnya sangat terkejut, ternyata itu hanya seorang suster. Ia mengatakan bahwa seorang gadis cilik baru saja meninggal.

Pada saat itu aku berfikir bahwa … itu semua hanya kebetulan.


Terjadi pembunuhan terhadap sebuah keluarga. Ini adalah kasus pertama Ishikawa setelah peristiwa penembakan. Seperti sebelumnya, Ishikawa berjalan mengelilingi area dekat TKP.


Saat berkeliling itulah, Ishikawa melihat seorang wanita memegang koper besar berdiri melihat kearah jendela rumah korban. Ishikawa menghampirinya dan menanyakan identitas wanita itu. Ia terkejutm ternyata wanita itu Mika Higa [Haru], seorang ahli forensik di departemen investigasi kriminasl MPD. Higa mengatakan bahwa ia diterima ketika Ishikawa tidak ada.

“aku wanita dan muda … aku bertaruh ka heran kenapa, kan?”

“tidak, aku hanya terkejut kau tidak mengenakan pakaian forensic.”

“jika mereka membuatku memakai itu aku akan berhenti dalam sedetik.”

“jadi apa yang kau lakkan di sini?”

“aku telah menyelesaikan tugasku, jadi aku fikir sebelum aku pergi, aku akan mengecek area sekitar TKP.”

“itu bkan pekerjaan seorang ahli forensic.”

“aku melakukan sesuatu berbeda, ada apa dengan itu?”

“tidak ada, ngomong2 apa yang kau lihat?”

“rumah korban.”

“bisakah kau melihat sesuatu?”

“aku bisa melihat banyak.”

“seperti apa?”

“apa kau telah melihat korban?”

“tidak, belum.”

“jadi aku belum bisa mendiskusikannya. Kita harus berbicara SETELAH kau melihat TKP.” Setlah berkata seperti itu Higa berjalan meninggalkan Ishikawa begitu saja.

Ishikawa bersama ketua Ichikura dan Tachibana bersiap memasuki rumah untuk melihat korban. Dijelaskan bahwa Korban adalah keluarga rumah tersebut, Tetsuro Sawada 39thn, Miyuki Sawada 33thn, dan Ryo, anaknya yang berusiaa 4thn.


Saat akan memaski rumah, Ishikawa merasakan kembali sakit di kepalanya. Setelah sakitnya merda, ia melihat anak kecil berdiri di halaman depan rumah. Anak tersebut menggumamkan sesuatu. Ishikawa tampak tak mengerti karena anak itu tak mengeluarkan suara.


Saat masuk, ada tanda dua jejak kaki. Penyelidik berpendapat bahwa itu adalah pekerjaan kelompok orang. Yang aneh adalah jejak itu berakhir di gang ruang masuk (tidak sampai ke pintu). Ditaksirkan mungkin mereka mengganti sepatu ketika mereka pergi.

Saat berjalan masuk lebih dalam, di depan kamar ada mayat Tetsuro Sawada.kemudian di dalam kamar ada mayat istrinya di atas kasur, Miyuki Sawada. Kematian diperkirakan terjadi sekitar pkl 11 malam. Semua sidik jari korban telah dibersihkan oleh pelaku.


Saat yang lainnya keluar kamar, Ishikawa berjalan melihat photo di atas meja. Ia melihat photo anak kecil yang tadi ia lihat di depan rumah. sakit kepalanya kembali kambuh hingga ia oleng. Setelah mereda, Ia menoleh karena merasakan sesatu.


Ishikawa terkejut karena melihat arwah tuan Tetsuro dan nyonya Miyuki berdiri di pintu.

“tolong tangkap orang yang membunh kami,” pinta arwah tuan Tetsuro.

“kami mengandalkanmu,”tambah arwah nyonya Miyuki.

Arwah tuan Tetsuro dan nyonya Miyuki berjalan menghampiri Ishikawa yang membuat Ishikawa semakin ketakutan. Sakit kepalanya kembali lagi hingga ia menunduk menahan sakit, saat ia melihat kea arah pintu, kedua arwah tadi telah menghilang. Ia kembali terkejut dengn kedatangan Tachibana yang menanyakan keadaannya. Ia memberitahukan jika ketua menanggilnya.


Ishikawa keluar dari kamar menemui ketua Ichikura. Ia melihat lambang suatu sekte.
“terlihat seperti sekembalinya dirim tidak berjalan mudah,”kata ketua Ichikawa serius.

Di ruang otopsi.


Ishikawa dan Tachibana sedang melihat berjalannya otopsi keluarga Sawada yang dikerjakan oleh Higa. Ishikawa kagum melihat pekerjaan Higa, karena bekerja dari pagi dan melakukan 3 otopsi tapi konsentrasinya tidak turun sama sekali. Tachibana ijin keluar untuk menerima telephone. 


Saat ishikawa memandang mayat tuan Tetsuro yang berbaring di depannya, ia teringat saat arwahnya dan istrinya muncul di depannya. Higa memandangnya dengan tajam, merasa diperhatikan Ishikawa menjadi canggung.


Tachibana kembali masuk ke ruang otopsi, ia memberitahukan info terbaru ahwa korban adalah bagian dari grup religi baru,”God’s Light”. Tapi sang istri ingin keluar dan akhirnya mereka berdebat dengan beberapa pengikut lain. Belakangan beberapa tetangganya (Sawada) melihatnya (nyonya Miyuki) berdebat dengan dua orang laki2 di depan pintu beberapa kali. Itu bisa menjelaskan kenapa dia (nyonya Miyuki) lebih banyak luka tikaman, Tachibana menyimpulkan.


Setelah otopsi, Higa memberikan dokumen hasilnya pada Ishikawa dan Tachibana . Ia menjelaskan bahwa akibat kematian semua korban adalah karena kehilangan darah selama ditikam. Senjatanya adalah pisa yang sangat tajam. Mungkin adalah sebuah pisau ukir. Semua tikaman dari hasil mencoba membela diri, pada tangan dan kemiringan goresan ke kiri, jadi pembnhnya pasti right-handed. Saat Higa ingin melanjautkan kata2nya, Tachibana menghentikannya, ia akan membayangkannya sendiri melalui dokumen hasil otopsi. Kemudian ia meninggalkan ruangan begitu saja, diikuti Ishikawa yang kemudian keluar.


Higa keluar dengan kesal, saat keluar ia melihat Ishikawa yang sedang menunggunya. Higa hanya berjalan begitu saja. Ishikawa menanyakan apa yang ingin Higa katakan tadi? Ia ngin tahu, itu mngkin membantu dengan investigasi. Tolong. Higa menghentikan langkahnya.

Mereka pergi ke ruang mayat.


“apa kau menyadari selama otopsi?”Tanya Higa.

“semua kuku korban pendek.”

“dan mereka(kuku) sama potongan juga …”. Higa memperlihatkan kuku korban.


Ishikawa melihatnya,”kulitnya juga berwarna sedikit di ujung. Ethanol?”

“pembunuhnya mungkin memotong mereka (kuku) di beberapa kulit pelaku terkena korban, kemudian membasahinya dengan ethanol.”

“karena itu tidak ada DNA yang ditemukan.”

“apakah ada sidik jari atau apapun di TKP?”

“tidak ada. Mereka mlakukan dengan baik membersihkan setelah kejadian.”

“bagaimana mereka masuk?”

“dari jendela di lantai dua. Mereka menggunakan atap gudang penyimpanan dan lompat. Terlihat jejak sepatu di sana. Tadi malam kau telah melihat di depan jendela. Apakah kau sudah menyadarinya?”

“aku mempunyai kecurigaan. Tidak ada sedikitpun lika di atas tubuh (korban). Tidak mungkin criminal bisa meninggalkan luka agresif tanpa emosi. Aku bisa merasakan perasaan ini, yang dibawa dari posisi berdiri. Aku yakin criminal sering lewat sana dan memiliki dorongan oleh bayang2 mereka. Seperti bayangan dari istri yang cantik, sebagai contohnya. Aku berfikir mereka pasti melampiaskan kemarahannya pada hari itu. Mungkin dari iri, amarah, dan kebencian. Kau ada yang ingin dikatakan?”

“tidak, kau hanya sangat berbeda dari ahli otopsi yang lain yang pernah aku temui.”

“menduga dari lebar dan goresan pada luka, pembunuhnya mungkin tingginya antara 180 dan 190 cm. mempertimbangkan metode dan point yang telah didapat dia (pelaku) pasti telah gila. Serta sangat tak mempunyai persiapan tapi menghilangkan petunjuk sangat teliti. Itu seperti dia memiliki kepribadian lain atau sesuatu.”

“bisa jadi ada criminal lain. Satu yang telah membunuh, yang lain bertugas membersihkan.”

“aku tidak berfikir bahwa si pembunuh bisa memperhitungkan lebih dulu … lukanya paling tidaak memeritahukan itu pada kita. Apakah kau memiliki pertanyaan lain?”

Suasana menjadi hening. Kemudian Ishikawa mulai berbicara,”nii tidak ada hubungan dengan kejadian ini …”

“apa?”

“… apakah orang yang pernah mengalami kecelakaan di kepala, biasa melihat SESUATU?”

“aku tidak bisa memberimu jawaban yang tepat. Aku harus pasien dan menginvestigasunya untuk memberitahukannya padamu. Itu mungkin tidak mengakibatkan akibat fisik, tapi bisa mempengaruhi mental.”


“yeah, itu benar… baiklah lupakan kita pernah membicarakan ini.” Ishikawa mulai berjalan kearah pintu. Tapi ia menghentikan jalannya ketika Higa mulai berkata …

“apa yang aku katakan hanya hipotetis, tapi… jika orang itu terluka di kepala dan memiliki peluru bersarang di dalamnya, itu mungkin saja. Seperti kekuatan kembali dari perang, orang itu mungkin akan menderita dari trauma yang besar.”

“… apa mungkin peluru itu bisa menjadi penyebab ilusi?”


“kalau kita mengeluarkannya kita tidak akan tahu. Dengan kata lain itu akan menjadi penyebab jika itu menghilang dan ilusi berhenti. Penelitian medis tentag otak masih di tingkat bawah, pada saat itu tidak ada orang bisa memerikan jawaban yang tepat tentang fungsi dan persoalan. Kita bisa membuat hipotesis kesimpulan lebih dulu. Hipotetis peluru di otakmu. Bisa berefek sebagian normal tidak digunakan lagi, dan kemampuan baru mungkin menjadi apa yang membuatmu melihat sesuatu. Atau mungkin tidak disebabkan karenanya juga.”

“tidak ada orang yang tahu. Itu benar … okey, terima kasih. Tolong jangan …”

“walaupun aku terlihat memiliki licensi medis, aku akan rahasiakan ini diantara kita.”

“apa aku ini, pasienmu?”

“katakana padaku jika kau memiliki pertayaan efek samping yang menarik lain. Aku akan memeriksanya gratis.” Higa berjalan keluar,”pastikan mematikan lampunya.”